Ketika 'Aktivis Kecil' Menyuarakan Ketidakadilan di Jalanan

TAJUK,Kontras.co.id,- Mereka turun ke jalan bak aktivis kampus yang menyuarakan ketidakadilan. Tidak banyak yang mereka inginkan, hanya ingin belajar normal seperti siswa-siswi di sekolah lain, penuh rasa aman, nyaman, tanpa ada gangguan. Ya, mereka, 'aktivis kecil' dari SDN 62 Kota Bengkulu.

Sebagai generasi penerus bangsa 'aktivis kecil' ini harus merasakan dampak negatif polemik lahan 'tak berujung' tempat mereka menimba ilmu. Berpolemik sejak tahun 2012 dan memuncak di angka Rp3,4 miliar.

Di bawah panasnya terik matahari, mereka rela mogok belajar, menggalang dana, menggelar aksi protes menuntut Pemerintah Kota Bengkulu untuk lebih serius menangani dan menyelesaikan polemik yang tak kunjung usai ini.

Sedikit bernostalgia, sudah beberapa kali SDN 62 ini disegel. Dan beberapa kali juga para 'aktivis kecil' ini yang harus menanggung pahit, menguji kondisi psikis dan mental di usia mereka yang teramat dini.

Sementara sang penguasa dengan entengnya mempersilahkan mereka untuk pindah ke sekolah lain. Entah minim ide, atau kehilangan rasa simpati, mungkin juga tak lagi mampu memberikan solusi, dan pasrah lalu berserah diri.

Entah lah, berbagai solusi pernah menghampiri, ada juga yang ditanggapi dengan ketawa-ketiwi. Namun belakangan meminta si pemberi solusi menuntaskan semua persoalan ini dengan narasi jadi pemimpin dua kali.

Ada peribahasa "Ada nasi di balik kerak," perkara lama belumlah rampung, yang lain pun belum diperhatikan. Sekedar mengingatkan, pendidikan merupakan salah satu upaya mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karenanya penting bagi seluruh pihak terkait untuk segera menawarkan solusi cerdas menuntaskan persoalan ini, khususnya pemimpin kota ini. Sebuah solusi yang jauh dari kata 'emosi' dan berbasis kebutuhan para 'aktivis kecil' ini, agar tak lagi menyuarakan ketidakadilan diusia mereka yang teramat dini.

Penulis : Mahmud Yunus

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.